#trulyComfort for Hajj & Umra
Home » Blog » Sejarah Kabah Dan Munculnya Arah Kiblat Umat Muslim Sedunia

Sejarah Kabah Dan Munculnya Arah Kiblat Umat Muslim Sedunia

Ka’bah merupakan bangunan suci yang berada di dalam masjid Masjidil Haram yang letaknya di kota Mekah Arab Saudi. Perlu truFriends ketahui, bahwa Ka’bah sudah ada sebelum Nabi Adam dan sempat rusak pada saat banjir bandang di masa Nabi Nuh, tersisa hanya pondasinya. Lalu kemudian, Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS meninggikan bangunan Ka’bah.

Dalam sejarahnya Ka’bah telah mengalami banyak sekali kejadian dan perubahan, untuk lebih jelasnya truFriends bisa membaca artikel berikut ini. 

Baca Juga: Asal Mula Mekah dan Madinah Dinamakan “Tanah Suci”

Sejarah Ka’bah dalam Al-Qur’an

Pembangunan Ka’bah telah tertulis dalam kitab suci Al-Qur’an pada surat Al-Imran Ayat 96. Dalam surat tersebut Allah SWT berfirman:

اِنَّ اَوَّلَ بَيْتٍ وُّضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِيْ بِبَكَّةَ مُبٰرَكًا وَّهُدًى لِّلْعٰلَمِيْنَۚ

Artinya: “Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.”

Ka’bah dibangun oleh Nabi Ibrahim dan dibantu oleh anaknya yaitu Nabi Ismail. Hal tersebut tertulis dalam kitab suci Al-Qur’an pada surat Al-Baqarah ayat 127, yang berbunyi:

وَاِذْ يَرْفَعُ اِبْرٰهٖمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَاِسْمٰعِيْلُۗ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail, (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

Setelah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail membangun Ka’bah, Allah SWT memberi perintah agar menjadikan bangunan tersebut tempat suci umat Islam. Ka’bah kemudian menjadi tempat sholat, tawaf, dan itikaf.

Perintah ini tercantum dalam QS Al-Baqarah ayat 125

وَاِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَاَمْنًاۗ وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَّقَامِ اِبْرٰهٖمَ مُصَلًّىۗ وَعَهِدْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ اَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّاۤىِٕفِيْنَ وَالْعٰكِفِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah (Ka’bah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. Dan jadikan lah maqam Ibrahim itu tempat sholat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkan lah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang yang iktikaf, orang yang rukuk dan orang yang sujud!”.”

Dalam perjalanannya, Ka’bah mengalami empat kali perbaikan dengan renovasi terakhir dilakukan di masa Dinasti Umayyah. Saat itu kepemimpinan dipegang Malik bin Marwan yang memperbaiki Ka’bah setelah mendapat laporan Al-Hajjaj.

Dikutip dari NU Online, sang khalifah mengembalikan bangunan Ka’bah seperti semula. Sebelumnya, di bawah kepemimpna Abdullah bin Zubairi, Ka’bah diubah dengan membuat dua pintu dan menambah luas.

Ka’bah telah mengalami empat kali perbaikan, yang terakhir dilakukan pada masa Dinasti Umayyah. Malik bin Marwan, khalifah pada masa itu, ia memerintahkan perbaikan Ka’bah setelah mendapat laporan dari Al-Hajjaj.

Sebelumnya, Ka’bah telah dipugar oleh Abdullah bin Zubair, yang menambahkan dua pintu dan memperluas luasnya. Malik bin Marwan kemudian mengembalikan Ka’bah seperti semula, sesuai dengan bentuk yang telah ditentukan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail. 

Ka’bah di masa Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS

Dikisahkan bahwa Ka’bah, sebagai pusat umat Islam, dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Namun, bagaimana mereka melakukan pembangunannya? Terlebih lagi, pada masa itu, teknologi belum secanggih saat ini. 

Dalam buku The Greatest Stories of Al-Qur’an karya Syekh Kamal As Sayyid, Ka’bah dibangun secara perlahan oleh bapak dan anak itu. Awalnya, Nabi Ismail dan ayahnya, Nabi Ibrahim, diperintahkan untuk membangun Ka’bah sebagai simbol kasih sayang mereka kepada Allah.

Nabi Ibrahim dan putranya Ismail AS bekerja sama dengan tekun, bekerja keras setiap hari, bahkan berbulan-bulan. Para mufasir atau ahli tafsir berbeda pendapat mengenai durasinya. Ada yang menyebutkan beberapa bulan, sementara ada yang berpendapat beberapa tahun.

Ka’bah sendiri merupakan bangunan yang digunakan untuk “melindungi” Hajar Aswad, sebuah batu hitam yang dikirimkan dari surga. Mereka mengumpulkan batu-batu, membangun pondasi, dan mengumpulkan pasir. Mereka melakukannya dengan ketekunan yang cukup luar biasa. 

Setiap hari, mereka membangun baris demi baris hingga mencapai ketinggian delapan meter. Kemudian, Ka’bah mulai menjulang tinggi, menjadi tempat berkumpul bagi orang-orang. Kemudian Ka’bah pun jadi, dikisahkan, ketika Ka’bah jadi seluruh alam berbahagia. 

Ka’bah di Masa Nabi Muhammad SAW

Ka’bah telah mengalami beberapa kali pemugaran. Bangunan suci yang merupakan warisan dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sebagai kiblat umat Muslim ini telah mengalami pemugaran dari masa ke masa, bahkan sebelum Islam hadir.

Profesor Quraish Shihab, seorang ahli tafsir dan pendiri Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) Jakarta, mencatat dalam bukunya Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW, beberapa peristiwa yang terkait dengan pemugaran Ka’bah. Pemugaran pertama Ka’bah terjadi pada masa Jahiliyah, dan Nabi Muhammad SAW ikut serta dalam proses pemugarannya.

Nabi Muhammad SAW terlibat dalam pemugaran Ka’bah, namun saat terjadi pertikaian, ia menjauh dari arena agar tidak terlibat langsung dalam pertikaian tersebut. Ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah orang yang bijaksana dan tidak suka terlibat dalam konflik.

Di sisi lain, sebelum menjadi Nabi dan mendapat bimbingan wahyu langsung dari Allah, Nabi Muhammad SAW sudah menunjukkan kebijaksanaannya dalam mempertemukan orang-orang yang berselisih dan mengelola konflik. Misalnya, saat terjadi konflik antara suku Quraisy dan Bani Kinanah, Nabi Muhammad SAW berhasil menengahi dan menyelesaikan konflik tersebut.

Kebijaksanaan Nabi Muhammad SAW dalam mengelola konflik ini juga terlihat saat ia menjadi Nabi. Nabi Muhammad SAW berhasil menyatukan umat Islam yang sebelumnya terpecah belah menjadi satu umat yang kuat. Ia juga berhasil menyebarkan Islam ke seluruh dunia dengan cara yang damai dan bijaksana.

Kebijaksanaan Nabi Muhammad SAW dalam mengelola konflik ini merupakan salah satu teladan yang dapat kita ikuti. Dengan belajar dari kebijaksanaan Nabi Muhammad SAW, kita dapat menjadi orang-orang yang lebih bijaksana dan mampu menyelesaikan konflik dengan cara yang damai.

Ka’bah Menjadi Arah Kiblat Umat Muslim

Dalam sejarah, umat Muslim pertama kali menghadap Baitul Maqdis di Yerusalem saat salat. Namun, pada tahun kedua setelah hijrah, kiblat umat Muslim berubah menjadi Ka’bah yang terletak di Masjidil Haram.

Perintah perubahan kiblat turun pada bulan Syaban, 16–17 bulan setelah Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekkah ke Madinah. Peristiwa ini tercantum di QS Al Baqarah ayat 144.

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى ٱلسَّمَآءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَىٰهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُۥ ۗ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

Artinya: “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”

Baca Juga: Sejarah dan Keistimewaan Bukit Jabal Rahmah

Ibadah Haji dan Umrah Nyaman Dengan Pakaian Premium

Nah itulah beberapa informasi mengenai sejarah Ka’bah mulai dari Nabi Ibrahim AS hingga Nabi Muhammad SAW. Sejarah Ka’bah memang begitu panjang, bahkan menurut beberapa sumber, Ka’bah telah ada sebelum Nabi Adam AS datang. 

Bagi truFriends yang mau melaksanakan ibadah haji atau umrah, truFriends perlu memilih pakaian ibadah haji dan umroh khusus wanita yang nyaman untuk dipakai. 

Dapatkan satu set Bless Series L.tru yang berisi set gamis atau set tunik dan celana, bergo hajj, inner hijab, manset shalat, serta kaus kaki dalam satu tas yang praktis. Set pakaian haji dan umrah wanita ternyaman tersebut dapat truFriends temukan di website L.tru sekarang juga!

Tuliskan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

×

Keranjang belanja

Tidak ada produk di keranjang.

Kembali ke toko

L.tru Official

Selamat datang di Toko Kami. Kami siap membantu semua kebutuhan Anda

Selamat datang, ada yang bisa Saya bantu